Disclaimer

Materi yang disajikan adalah sebagai bahan edukasi, kami tidak menjamin 100% akurasi. Trading forex & commodity salah satu instrumen investasi yang berisiko tinggi, tanggung jawab atas hasil dari segala keputusan ada pada Anda sendiri.

Minggu, 12 Juni 2022

Raih Cuan Dalam Trading Dengan Strategi Breakout Sederhana



Apa itu breakout?
Dalam bahasa Inggris, breakout artinya kelolosan atau kejebolan. Di mana, breakout dalam trading merupakan salah satu momen yang dinantikan oleh para trader terutama bagi mereka yang sering mengikuti strategi trend follower. Breakout merupakan sebuah peristiwa atau momen dalam trading ketika harga melewati area atas atau disebut sebagai resisten maupun area alas atau support.

Breakout dibagi menjadi dua, yakni:


1. True Breakout
True breakout terjadi ketika pergerakan harga telah melewati atau menembus suatu level dan tidak berbalik arah dan melanjutkan penembusan atau rally. Jika diperhatikan dengan menggunakan candlestick chart, true breakout akan terkonfirmasi ketika body dari candlestick tersebut melewati atau menembus garis dan juga diikuti oleh peningkatan volume. Semakin signifikan peningkatan volume yang terjadi maka dapat dikonfirmasi sebagai true breakout.


 
2. False Breakout
False breakout terjadi ketika pergerakan harga telah melewati suatu level namun kemudian berbalik arah dan tidak melanjutkan penembusan. Berbeda halnya dengan true breakout, dengan menggunakan candlestick chart, false breakout akan terkonfirmasi ketika bukan body dari candlestick tersebut yang melewati atau menembus garis melainkan hanya bagian ekor dan tentunya tidak diikuti oleh peningkatan volume. Peningkatan volume yang tidak signifikan dapat diindikasikan sebagai false breakout.


 
Dalam memulai transaksi menggunakan strategi breakout biasanya trader menggunakan stop loss order untuk menghindari risiko kerugian yang lebih besar jika breakout gagal. Apabila yang terjadi adalah penembusan downside, stop loss dapat ditempatkan di atas level support yang telah dilewati dan jika sebaliknya, stop loss dapat ditempatkan di bawah level resistennya.

Tips Trading dengan Strategi Breakout


Bagaimana cara trading yang tepat ketika terjadi breakout? Di bawah ini adalah beberapa tips cara trading yang sukses ketika breakout:

1. Ketahui trend yang kuat pada market
Umumnya, strategi ini bisa diterapkan ketika muncul trend yang kuat ditambah dengan kondisi market sedang ramai. Hal ini karena ketika sedang terjadi trend yang kuat, maka harga berpotensi menembus titik support dan resistance.

Trend yang kuat juga memberikan probabilitas atau kemungkinan sukses yang tinggi. Namun, perlu diperhatikan berapa banyak volume trading yang terjadi dalam satu waktu. Oleh karena itu, Anda harus memiliki suatu kriteria tertentu untuk mendeteksi bagus-tidaknya suatu peluang beakout.

2. Gunakan candle untuk validasi breakout
Agar breakout valid, kamu juga bisa menunggu hingga penutupan candle berada di atas resistance atau berada di bawah support yang menjadi acuan breakout. Lebih baik lagi jika satu candle utuh dan shadow-nya sudah berada di luar area support-resistance. Hal ini karena, breakout belum benar-benar terjadi jika hanya ujung atas atau ujung bawah shadow candle yang melampaui ambang support-resistance.



3. Amati volume trading pasar saat breakout.
Breakout yang disertai volume trading tinggi bertanda adanya kemungkinan trending yang lebih besar lagi. Sebaliknya, breakout yang terjadi pada saat volume trading rendah, artinya menandakan kemungkinan besar untuk harga berbalik (fake breakout).



4. Jangan lupa memasang Stop Loss.
Untuk menanggulangi risiko trading strategi breakout, Anda juga bisa memasang Stop Loss tepat pada titik resistance atau titik support yang sebelumnya menandai breakout tersebut. Stop Loss ini penting agar kamu tidak mengalami kerugian yang terlalu besar jika nantinya harga ternyata gagal breakout.



Semoga bermanfaat,
#tredingmudah

Sabtu, 04 Juni 2022

Trading Menggunakan Kombinasi Indikator CCI Dan EMA

 



Salah satu kelemahan trading dengan CCI adalah indikator ini hanya memberikan informasi kekuatan  arah trend saja. Penggunaan EMA dapat digunakan sebagai indikator arah trend sebagai pelengkapnya. Contoh penggunaannya dapat dilihat dalam grafik di bawah ini.




Crossing EMA 55 di atas mengawali perubahan arah dari downtrend ke uptrend. Selama harga masih bergerak di atas kedua garis EMA, sebaiknya cari peluang buy agar searah dengan trend harga. Di sini, sinyal oversold CCI menjadi penunjuk posisi entry buy yang tepat.

Contoh di atas menggunakan chart time frame H4. Namun cara ini sejatinya bisa diterapkan untuk semua time frame. Perlu diingat, semakin tinggi time frame maka sinyal yang diberikan oleh indikator CCI akan semakin valid.


Kesimpulan
Secara garis besar, trading dengan CCI tergolong cukup mudah. Selain bisa digunakan untuk mendeteksi tingkat overbought dan oversold, indikator ini juga memiliki kegunaan lain seperti mencari peluang dari retracement dan menentukan divergensi market. Akan tetapi, sebaiknya kombinasikan CCI dengan indikator atau metode analisa lain untuk meminimalisir kekurangan dan meningkatkan akurasi sinyal.



Semoha bermanfaat
#tredingmudah


Selasa, 19 April 2022

2 Keunggulan Indikator CCI (Commodity Channel Index) Dalam Trading


Trading dengan CCI bisa menjadi opsi menarik apabila Anda menyukai analisa teknikal dan ingin memanfaatkan kejenuhan pasar.

Commodity Channel Index atau CCI merupakan indikator oscillator, indikator ini sebagai alat bantu untuk trading di pasar komoditas. Seiring perkembangan dunia trading, tidak sedikit investor yang trading dengan CCI di pasar forex.

Indikator ini bisa melihat tingkat kejenuhan pasar dan mengidentifikasi trend. Selain itu, CCI juga bisa digabungkan dengan indikator lain agar mendapatkan hasil analisa yang lebih akurat. Sebelum mempelajari cara trading dengan CCI di pasar forex, mari pelajari cara membaca indikator ini terlebih dulu.

Membaca Indikator CCI

Dalam indikator CCI, ada tiga komponen penting yang harus Anda perhatikan. Ketiganya dapat Anda lihat dalam gambar berikut ini.


Ketiga komponen tersebut membuat CCI mudah untuk dibaca. Saat sinyal CCI berada di atas 100, maka harga telah sampai pada kondisi jenuh beli (overbought). Sebaliknya, harga disebut sedang jenuh jual (oversold) jika garis sinyal berada di bawah nilai -100.

Trading Dengan CCI

Ada beberapa cara trading dengan CCI yang bisa diaplikasikan untuk trading forex. Secara garis besar, indikator ini menggunakan overbought dan oversold untuk menentukan posisi entry sell maupun buy. Bagaimana cara menggunakan indikator CCI untuk mencari posisi?

1. Melihat Tingkat Kejenuhan Pasar

Tingkat kejenuhan pasar bisa menjadi sinyal untuk mendeteksi terjadinya perubahan trend pasar atau reversal. Untuk mencari tahu tingkat kejenuhan pasar, lihat penjelasan pada grafik di bawah ini.


2. Mengidentifikasi Retracement

Trading dengan CCI juga sering diterapkan oleh trader trend following. Ada kalanya, harga suatu pair akan bergerak ke suatu sisi dengan kuat dan terus-menerus. Kondisi inilah yang dicari oleh para trend follower. Saat harga bergerak seperti itu, biasanya akan diiringi dengan koreksi-koreksi kecil atau retracement. Setelah itu, harga akan kembali melanjutkan perjalanan di arah yang sama. Anda bisa memanfaatkan indikator CCI untuk mencari retracement tersebut. Contohnya bisa dilihat dalam grafik berikut.


Pada grafik di atas, harga sedang dalam kondisi uptrend lalu memasuki area overbought. Hal ini mengindikasikan penurunan dari puncak kenaikan terbaru.

Untuk mengkonfirmasi kembalinya pergerakan harga dari retracement, sebaiknya gunakan grafik dengan time frame yang satu tingkat lebih kecil dari yang Anda gunakan. Misalnya, pada grafik di atas kondisi overbought terjadi pada time frame H4. Langkah berikutnya adalah pindah ke time frame yang lebih kecil, misalnya H1. Kemudian tunggu saat terjadi oversold pada time frame H1 seperti yang terlihat dalam grafik di bawah ini.


Grafik di atas menunjukan kondisi oversold di H1, yang ditunjukkan dengan posisi garis sinyal CCI di area -100. Saat kondisi ini terjadi, Anda bisa membuka posisi buy untuk memanfaatkan peluang kenaikan harga setelah oversold.
 

Kekurangan CCI

Trading dengan CCI memang terlihat mudah dan sederhana. Akan tetapi, seperti indikator-indikator lainnya, trading dengan CCI juga memiliki kekurangan. CCI merupakan indikator lagging, yang berarti terlambat dalam melaporkan pergerakan harga. Sinyal baru diberikan setelah candlestick dalam periode pengukuran tersebut selesai terbentuk. Akibatnya, jika tidak dikombinasikan dengan indikator lain, CCI bisa menimbulkan kesalahan sinyal.


Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy