Disclaimer

Materi yang disajikan adalah sebagai bahan edukasi, kami tidak menjamin 100% akurasi. Trading forex & commodity salah satu instrumen investasi yang berisiko tinggi, tanggung jawab atas hasil dari segala keputusan ada pada Anda sendiri.
Tampilkan postingan dengan label Teknikal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknikal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Agustus 2022

Teknik Dasar Candlestick Bullish, Bearish, Up Bar Dan Down Bar

Mengenali candlestick bullish dan bearish adalah strategi trading paling dasar. Anda bisa dengan mudah mengidentifikasi suatu candlestick hanya dengan melihat warnanya saja. Namun karena setting warna di setiap chart trader bisa berbeda-beda, maka ada baiknya Anda mempelajari teori pembentukan candle bullish dan bearish.

Dalam pemahaman suatu candlestick dikatakan bullish apabila ia ditutup (close) pada level yang lebih tinggi dari harga pembukaannya (open). Sebaliknya, formasi candlestick bearish terkonfirmasi jika harga penutupan berakhir di level yang lebih rendah dari harga pembukaan.



Secara umum, candlestick bullish menandakan kuatnya sentimen buyer, begitu juga sebaliknya dengan candlestick bearish yang berpihak pada sentimen seller. Selain melihat formasi candle satu per satu, dalam teknik trading juga memperhatikan pola rentetan candlestick. Dalam metode ini, up bar mewakili rentetan candlestick bullish, sedangkan down bar menggambarkan rangkaian candlestick bearish.

Yang menarik di sini, suatu up bar bisa mengandung candlestick bearish, begitupun down bar juga dapat dihuni oleh candlestick bullish. Hal ini bisa terjadi karena dalam mengartikan up bar dan down bar, dalam teknik treding juga melihat bagaimana posisi suatu candestick terhadap harga sebelumnya.


Jadi, candles bearish tetap tergolong sebagai bagian dari rangkaian up bar selama high (level tertinggi) dan low (level terendah)-nya lebih tinggi dari high low candle sebelumnya. Pemahaman teknik serupa juga bisa diaplikasikan untuk memahami posisi candles bullish dalam rentetan down bar.

Formasi Candlestick Disebut Juga Price Action


Teknik price action juga menganalisa formasi candlestick dengan beragam bentuk unik yang masing-masing dapat diinterpretasikan sebagai sinyal penting, baik itu pembalikan (reversal) atau penerusan. Beberapa formasi candlestick utama yang terdiri dari:

Pin Bar

Pin bar merupakan salah satu pola candle utama dalam teknik price action, karena paling mudah dikenali dan sering dijumpai di chart. Kemunculannya ditandai dengan body candle yang kecil dan salah satu sumbu memanjang melebihi besar body-nya. Terdapat dua jenis pin bar, di mana bearish pin bar yang terbentuk di puncak (top) harga teridentifikasi sebagai penanda bearish reversal, sementara bullish pin bar di dasar (bottom) harga seringkali diartikan sebagai sinyal pembalikan bullish.


Teknik price action mengungkapkan bahwa pin bar bisa sangat akurat jika terbentuk pada support resistance harga yang mengalami penguatan trend. Dalam penerapan teknik price action, pin bar seringkali dimanfaatkan untuk mengkonfirmasi pembalikan trend dalam strategi reversal, atau memvalidasi gelombang pullback dalam metode trading sesuai trend.


Inside Bar

Menandakan konsolidasi pasar yang sedang berada dalam ketidakpastian, inside bar teridentifikasi sebagai formasi candle yang level high dan low-nya berada dalam range candle sebelumnya. Itulah mengapa, teknik price action dengan pola ini memerlukan pengamatan pada 2 candlestick sekaligus, di mana candle pertama disebut sebagai mother bar, dan candle kedua adalah inside bar.


Grafik inside bar menjadi pertanda keraguan buyer dan seller yang saling menunggu. Dengan demikian, Anda sebaiknya menunggu hingga candle ke-3 (konfirmator) tertutup untuk mengartikan sinyal inside bar. Teknik price action yang direkomendasikan adalah: jika candlestick konfirmator close di atas level high mother bar, maka artinya buyer telah mengambil inisiatif untuk mendorong harga ke atas. Sebaliknya, Anda bisa mengambil langkah bearish jika candle ke-3 tertutup di bawah level low mother bar. Kondisi tersebut mencerminkan kemenangan seller dalam menekan harga ke arah downside.



Semoga bermanfaat, salam #tredingmudah















Selasa, 09 Agustus 2022

Mengenal Jenis Candlestick Doji

 


Doji merupakan pola candlestick yang cukup netral. Dibutuhkan konfirmasi candlestick berikutnya agar Anda bisa memperkirakan arah pasar selanjutnya.


Candlestick doji memiliki body yang sangat tipis bahkan hanya terlihat seperti garis, karena harga open dan harga close yang sama. Hal itu disebabkan karena antara seller dan buyer tidak ada yang mampu memegang kendali.

Doji menggambarkan seimbang antara bullish dan bearish, ada empat jenis doji didalamnya, yaitu:

-Long Legged Doji
-Dragonfly Doji
-Gravestone Doji
-Four Price Doji



Long-legged Doji

Dikenali karena shadow yg dimiliki oleh jenis candlestick ini cukup panjang, jika formasi Long-legged doji terbentuk pada pergerakan downtrend, maka kemungkinan besar pergerakan harga akan berbalik ke arah uptrend.

Panjang ekor tersebut menunjukkan sentimen seller sebelumnya lebih kuat, namun berbalik mengikuti buyer.

Pada saat itu, harga yang telah mencapai level terendah dengan cepat berbalik arah. Ini juga berlaku jika terjadi pada pergerakan uptrend.

Dragonfly Doji

Bentuknya yang seperti huruf (T) dragonfly doji memiliki harga open, close dan high yang identik, bahkan hampir sama.

Ada kalanya letak body berada di posisi sedikit ke bawah yang membuat dragonfly doji dapat memiliki bentuk seperti salib. Istilah dragonfly ini diambil karena doji ini memiliki bentuk mirip seperti capung.

Gravestone Doji

Tidak jauh berbeda dengan dragonfly doji, gravestone doji memiliki harga open, close dan low yang sama atau hampir sama.

Doji ini diberi nama gravestone karena bentuknya yang mirip batu nisan. Ada kalanya juga posisi body agak sedikit ke atas sehingga bentuknya menyerupai salib terbalik.

Ketika pola candlestick jenis gravestone doji ini ditemukan, maka akan sangat membantu dalam melakukan analisis teknikal.

Setelah pasar mengalami uptrend panjang dan diikuti dengan terbentuknya pola ini, itu berarti mengisyaratkan bahwa perdagangan untuk terus membeli harus sudah berakhir. Bisa dengan alasan harga sudah terlalu mahal.

Selain itu, pola gravestone doji juga lah yang bisa memberikan sinyal kepada para seller untuk memulai aktivitas jualnya.

Four Price Doji

Kemunculan doji ini biasanya menunjukkan bahwa tekanan bullish atau bearish mulai berkurang.

Jadi, jika doji ini muncul pada saat uptrend akan memberikan pertanda bahwa tekanan bullish menurun. Sebaliknya jika doji muncul pada saat downtrend artinya tekanan bearish mulai berkurang.

Namun sekali lagi, diperlukan konfirmasi dari candlestick berikutnya untuk mengambil action. Ingat selalu bahwa doji adalah pola netral.

Bentuknya menyerupai garis horizontal tanpa ekor sama sekali pada sisi atas maupun bawah body, sedangkan body-nya amat tipis.

Four Price Doji hanya akan muncul jika nilai harga open, high, low, dan close (OHLC) sama persis dalam satu periode pembentukan bar candlestick.


Semoga bermanfaat,
#tredingmudah


Minggu, 12 Juni 2022

Raih Cuan Dalam Trading Dengan Strategi Breakout Sederhana



Apa itu breakout?
Dalam bahasa Inggris, breakout artinya kelolosan atau kejebolan. Di mana, breakout dalam trading merupakan salah satu momen yang dinantikan oleh para trader terutama bagi mereka yang sering mengikuti strategi trend follower. Breakout merupakan sebuah peristiwa atau momen dalam trading ketika harga melewati area atas atau disebut sebagai resisten maupun area alas atau support.

Breakout dibagi menjadi dua, yakni:


1. True Breakout
True breakout terjadi ketika pergerakan harga telah melewati atau menembus suatu level dan tidak berbalik arah dan melanjutkan penembusan atau rally. Jika diperhatikan dengan menggunakan candlestick chart, true breakout akan terkonfirmasi ketika body dari candlestick tersebut melewati atau menembus garis dan juga diikuti oleh peningkatan volume. Semakin signifikan peningkatan volume yang terjadi maka dapat dikonfirmasi sebagai true breakout.


 
2. False Breakout
False breakout terjadi ketika pergerakan harga telah melewati suatu level namun kemudian berbalik arah dan tidak melanjutkan penembusan. Berbeda halnya dengan true breakout, dengan menggunakan candlestick chart, false breakout akan terkonfirmasi ketika bukan body dari candlestick tersebut yang melewati atau menembus garis melainkan hanya bagian ekor dan tentunya tidak diikuti oleh peningkatan volume. Peningkatan volume yang tidak signifikan dapat diindikasikan sebagai false breakout.


 
Dalam memulai transaksi menggunakan strategi breakout biasanya trader menggunakan stop loss order untuk menghindari risiko kerugian yang lebih besar jika breakout gagal. Apabila yang terjadi adalah penembusan downside, stop loss dapat ditempatkan di atas level support yang telah dilewati dan jika sebaliknya, stop loss dapat ditempatkan di bawah level resistennya.

Tips Trading dengan Strategi Breakout


Bagaimana cara trading yang tepat ketika terjadi breakout? Di bawah ini adalah beberapa tips cara trading yang sukses ketika breakout:

1. Ketahui trend yang kuat pada market
Umumnya, strategi ini bisa diterapkan ketika muncul trend yang kuat ditambah dengan kondisi market sedang ramai. Hal ini karena ketika sedang terjadi trend yang kuat, maka harga berpotensi menembus titik support dan resistance.

Trend yang kuat juga memberikan probabilitas atau kemungkinan sukses yang tinggi. Namun, perlu diperhatikan berapa banyak volume trading yang terjadi dalam satu waktu. Oleh karena itu, Anda harus memiliki suatu kriteria tertentu untuk mendeteksi bagus-tidaknya suatu peluang beakout.

2. Gunakan candle untuk validasi breakout
Agar breakout valid, kamu juga bisa menunggu hingga penutupan candle berada di atas resistance atau berada di bawah support yang menjadi acuan breakout. Lebih baik lagi jika satu candle utuh dan shadow-nya sudah berada di luar area support-resistance. Hal ini karena, breakout belum benar-benar terjadi jika hanya ujung atas atau ujung bawah shadow candle yang melampaui ambang support-resistance.



3. Amati volume trading pasar saat breakout.
Breakout yang disertai volume trading tinggi bertanda adanya kemungkinan trending yang lebih besar lagi. Sebaliknya, breakout yang terjadi pada saat volume trading rendah, artinya menandakan kemungkinan besar untuk harga berbalik (fake breakout).



4. Jangan lupa memasang Stop Loss.
Untuk menanggulangi risiko trading strategi breakout, Anda juga bisa memasang Stop Loss tepat pada titik resistance atau titik support yang sebelumnya menandai breakout tersebut. Stop Loss ini penting agar kamu tidak mengalami kerugian yang terlalu besar jika nantinya harga ternyata gagal breakout.



Semoga bermanfaat,
#tredingmudah

Sabtu, 04 Juni 2022

Trading Menggunakan Kombinasi Indikator CCI Dan EMA

 



Salah satu kelemahan trading dengan CCI adalah indikator ini hanya memberikan informasi kekuatan  arah trend saja. Penggunaan EMA dapat digunakan sebagai indikator arah trend sebagai pelengkapnya. Contoh penggunaannya dapat dilihat dalam grafik di bawah ini.




Crossing EMA 55 di atas mengawali perubahan arah dari downtrend ke uptrend. Selama harga masih bergerak di atas kedua garis EMA, sebaiknya cari peluang buy agar searah dengan trend harga. Di sini, sinyal oversold CCI menjadi penunjuk posisi entry buy yang tepat.

Contoh di atas menggunakan chart time frame H4. Namun cara ini sejatinya bisa diterapkan untuk semua time frame. Perlu diingat, semakin tinggi time frame maka sinyal yang diberikan oleh indikator CCI akan semakin valid.


Kesimpulan
Secara garis besar, trading dengan CCI tergolong cukup mudah. Selain bisa digunakan untuk mendeteksi tingkat overbought dan oversold, indikator ini juga memiliki kegunaan lain seperti mencari peluang dari retracement dan menentukan divergensi market. Akan tetapi, sebaiknya kombinasikan CCI dengan indikator atau metode analisa lain untuk meminimalisir kekurangan dan meningkatkan akurasi sinyal.



Semoha bermanfaat
#tredingmudah


Selasa, 19 April 2022

2 Keunggulan Indikator CCI (Commodity Channel Index) Dalam Trading


Trading dengan CCI bisa menjadi opsi menarik apabila Anda menyukai analisa teknikal dan ingin memanfaatkan kejenuhan pasar.

Commodity Channel Index atau CCI merupakan indikator oscillator, indikator ini sebagai alat bantu untuk trading di pasar komoditas. Seiring perkembangan dunia trading, tidak sedikit investor yang trading dengan CCI di pasar forex.

Indikator ini bisa melihat tingkat kejenuhan pasar dan mengidentifikasi trend. Selain itu, CCI juga bisa digabungkan dengan indikator lain agar mendapatkan hasil analisa yang lebih akurat. Sebelum mempelajari cara trading dengan CCI di pasar forex, mari pelajari cara membaca indikator ini terlebih dulu.

Membaca Indikator CCI

Dalam indikator CCI, ada tiga komponen penting yang harus Anda perhatikan. Ketiganya dapat Anda lihat dalam gambar berikut ini.


Ketiga komponen tersebut membuat CCI mudah untuk dibaca. Saat sinyal CCI berada di atas 100, maka harga telah sampai pada kondisi jenuh beli (overbought). Sebaliknya, harga disebut sedang jenuh jual (oversold) jika garis sinyal berada di bawah nilai -100.

Trading Dengan CCI

Ada beberapa cara trading dengan CCI yang bisa diaplikasikan untuk trading forex. Secara garis besar, indikator ini menggunakan overbought dan oversold untuk menentukan posisi entry sell maupun buy. Bagaimana cara menggunakan indikator CCI untuk mencari posisi?

1. Melihat Tingkat Kejenuhan Pasar

Tingkat kejenuhan pasar bisa menjadi sinyal untuk mendeteksi terjadinya perubahan trend pasar atau reversal. Untuk mencari tahu tingkat kejenuhan pasar, lihat penjelasan pada grafik di bawah ini.


2. Mengidentifikasi Retracement

Trading dengan CCI juga sering diterapkan oleh trader trend following. Ada kalanya, harga suatu pair akan bergerak ke suatu sisi dengan kuat dan terus-menerus. Kondisi inilah yang dicari oleh para trend follower. Saat harga bergerak seperti itu, biasanya akan diiringi dengan koreksi-koreksi kecil atau retracement. Setelah itu, harga akan kembali melanjutkan perjalanan di arah yang sama. Anda bisa memanfaatkan indikator CCI untuk mencari retracement tersebut. Contohnya bisa dilihat dalam grafik berikut.


Pada grafik di atas, harga sedang dalam kondisi uptrend lalu memasuki area overbought. Hal ini mengindikasikan penurunan dari puncak kenaikan terbaru.

Untuk mengkonfirmasi kembalinya pergerakan harga dari retracement, sebaiknya gunakan grafik dengan time frame yang satu tingkat lebih kecil dari yang Anda gunakan. Misalnya, pada grafik di atas kondisi overbought terjadi pada time frame H4. Langkah berikutnya adalah pindah ke time frame yang lebih kecil, misalnya H1. Kemudian tunggu saat terjadi oversold pada time frame H1 seperti yang terlihat dalam grafik di bawah ini.


Grafik di atas menunjukan kondisi oversold di H1, yang ditunjukkan dengan posisi garis sinyal CCI di area -100. Saat kondisi ini terjadi, Anda bisa membuka posisi buy untuk memanfaatkan peluang kenaikan harga setelah oversold.
 

Kekurangan CCI

Trading dengan CCI memang terlihat mudah dan sederhana. Akan tetapi, seperti indikator-indikator lainnya, trading dengan CCI juga memiliki kekurangan. CCI merupakan indikator lagging, yang berarti terlambat dalam melaporkan pergerakan harga. Sinyal baru diberikan setelah candlestick dalam periode pengukuran tersebut selesai terbentuk. Akibatnya, jika tidak dikombinasikan dengan indikator lain, CCI bisa menimbulkan kesalahan sinyal.


Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy

Kamis, 07 April 2022

Mengenal Fungsi Indikator RSI (Relative Strength Index) Secara Sederhana

 


RSI atau Relative Strength Index adalah indikator yang memiliki kegunaan hampir sama dengan indikator stochastic yaitu menunjukkan kondisi pasar yang sedang overbought atau oversold.


Indikator ini memiliki skala 0-100, dengan keterangan di atas skala 70 menunjukkan pasar dalam overbought dan di bawah skala 30 menunjukkan pasar dalam kondisi oversold. RSI ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi kemungkinan pergantian arah trend dengan mengalami divergensi terhadap pergerakan harga.

Trading dengan menggunakan indikator RSI


Indikator RSI dapat digunakan seperti stochastic untuk menentukan posisi potensial di atas (top) atau di bawah (bottom), tergantung kondisi pasar.


Sebagai contoh, jika terdapat oversold CADJPY dalam time frame 1 jam CADJPY yang telah mengalami penurunan sekitar 900 pips selama 10 jam terakhir, diperdagangkan di bawah 98.50.

Maka, RSI menunjukkan penurunan di bawah skala 30, menunjukkan tak ada penjual yang tersisa di pasar dan pergerakan harga turun akan segera berakhir.

Sehingga beberapa saat kemudian pergerakan harga berbalik dan meninggalkan posisi bottom menuju ke atas membentuk pola uptrend untuk beberapa jam kedepan.

Menentukkan trend menggunakan indikator RSI


RSI merupakan salah satu indikator yang populer karena dapat digunakan untuk mengkonfirmasi pembentukan sebuah trend.


Jika sebuah trend akan terbentuk, maka indikator ini akan berada di atas atau di bawah skala 50.

Apabila kemungkinan uptrend, maka garis pasti berada di atas skala 50. Sementara jika kemungkinan downtrend, maka garis berada di bawah skala 50.

Namun untuk menghindari sinyal yang keliru, perlu menunggu garis menembus di bawah 50 untuk konfirmasi lebih lanjut pada trend yang terbentuk.

Dan jika RSI ternyata menembus di bawah 50, maka cukup sebagai konfirmasi bahwa downtrend benar-benar terbentuk.

3 tips penting dalam trading dengan RSI yang perlu diperhatikan:


1. Pada keadaan trend kuat, abaikan overbought dan oversold RSI.

Saat harga bergerak trending kuat dalam jangka waktu yang relatif panjang, maka metode entry dengan mengandalkan overbought dan oversold indikator RSI tak lagi akurat.

Sebagai solusi, sebelum mengatasi indikator RSi sebaiknya trader melihat indikator trend terlebih dahulu, seperti MACD, Bollinger Bands, dan ADX.

2. Memperhatikan level 50 pada RSI (center line).

Semua indikator dengan tipe oscillator memiliki level tengah atau disebut dengan center line, biasanya berada pada level 50 atau 50%. Center line menunjukkan momentum pergantian arah pergerakan harga ketika terjadi retracement atau bahkan saat terjadi pergantian arah trend.

Center line dari indikator RSI bisa digunakan sebagai sinyal atau isyarat untuk melakukan aksi buy atau sell. Jika center line ke arah atas, mengisyaratkan sinyal buy, sebaliknya center line ke arah bawah mengisyaratkan sinyal sell.

3. Menggunakan parameter RSI disesuaikan dengan time frame trading.

Umumnya parameter periode waktu default pada platform trading untuk tipe indikator tipe oscillator, baik RSI adalah 14. Sehingga periode 14 biasanya cocok untuk time frame daily, namun kurang akurat untuk time frame trading yang lebih rendah.

Semakin kecil periode pengukuran maka semakin sensitif dan menyulitkan pengamatan namun semakin besar periode waktu maka semakin kurang sensitif dan mempengaruhi akurasi pengukuran. Jadi sesuaikan dengan gaya trading Anda.


Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy

Rabu, 30 Maret 2022

Indikator ATR Untuk Tentukan Stop Loss

 

Sebagai seorang trader, Anda selalu mencari alat analisis teknis terbaik untuk mengarahkan Anda ke pengaturan perdagangan yang paling menguntungkan.


Indikator Average True Range (ATR) merupakan alat yang mungkin digunakan untuk analisis teknis bagi para trader yang condong ke arah pelacakan dan eksploitasi volatilitas pasar.

Cara Kerja ATR

Meskipun ATR adalah salah satu indikator yang paling mudah dibaca, prinsip di baliknya mungkin tampak menantang bagi beberapa trader. Namun disini kita tidak akan membahas samapai ke bagaimana terbentuknya indikator ATR, kita akan bahas bagaimana penggunakan dalam trading secara sederhana.


Ingatlah bahwa ATR memberikan nilai rata-rata dari range sebenarnya dari pasangan mata uang. Namun, trader menggunakan rata-rata pergerakan 14 periode untuk menghitung ATR. Dengan kata lain, ATR adalah rata-rata pergerakan 14 periode dari semua rentang sebenarnya di pasar.

Inti mendasarkan perhitungan rata-rata bergerak pada 14 hari adalah membuat indikator cukup sensitif untuk digunakan di semua grafik perdagangan, yaitu dari intraday dan harian hingga bulanan.

Penggunaan ATR

Bahwa ATR tidak memberi sinyal arah harga. Sebaliknya, indikator tersebut murni mengukur volatilitas dalam pasar pasangan mata uang. Ketika digunakan pada grafik harga, indikator memberi tahu Anda kapan volatilitas pasar tinggi dan kapan turun.

Di forex penggunaan ATR sebagai alat untuk keluar dari posisi dan menentukan ukuran order saat memasuki pasar. Penggunaan ATR yang paling umum adalah untuk membantu trader menempatkan perintah stop-loss pada nilai yang paling tepat.

Secara khusus, indikator menunjukkan kondisi pasar dengan cara yang memungkinkan Anda untuk menghindari stop-loss yang terlalu ketat dalam periode volatilitas tinggi, serta stop-loss yang terlalu lebar pada periode volatilitas pasar rendah.

ATR Untuk Tentukan Stop-loss

ATR menyederhanakan penentuan tingkat harga Stop-loss yang tepat sehingga tidak terlalu lebar atau terlalu ketat. Sebelum kita melihat bagaimana hal ini dapat dilakukan, Anda perhatikan satu prinsip utama dalam menggunakan ATR.

Prinsipnya adalah jika Anda melakukan Buy dan harga menguntungkan posisi Anda, maka pertahankan stop-loss pada nilai di bawah harga pasangan mata uang yaitu dua kali nilai ATR. Mari kita lihat ini dalam praktik.

Perhatikan pasangan XAUUSD pada grafik di bawah ini. Pada XAUUSD = 1929.00, pasar diluncurkan ke pasar bull yang kuat. ATR menunjukkan sedikit tonjolan dalam volatilitas aksi harga yang berkaitan dengan XAUUSD.


Jika Anda menetapkan harga stop-loss pada saat Anda membeli XAUUSD, level harga stop-loss yang ideal adalah di 1920.60.

Bagaimana kita sampai pada ini? Ingat prinsip yang kita bahas, saat Anda memasuki pasar, ATR adalah 4.20; ketika Anda mengalikannya dengan 2, maka menjadi 840, kurangkan 840 dari 1929.00, dan angka yang Anda dapatkan adalah 1920.60.



Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy


Rabu, 23 Maret 2022

4 Fungsi Utama Indikator MACD Dalam Trading

 


MACD (Moving Average Convergence Divergence) merupakan salah satu indikator teknikal paling populer yang banyak diandalkan dalam trading forex.

Dibandingkan indikator lain, MACD memang tergolong multi-fungsi, sehingga bisa diandalkan alat bantu dalam beberapa jenis strategi trading.

Komponen Indikator MACD

MACD adalah indikator pilihan yang sejak lama telah menjadi fitur bawaan MetaTrader. Meski dimasukkan dalam kategori Oscillator, banyak yang berpendapat jika MACD bukanlah murni Oscillator, melainkan indikator yang bisa difungsikan sebagai Oscillator.

Komponen yang membentuk Indikator MACD di MetaTrader 4 terdiri dari dua aspek, yaitu Area MACD dan garis sinyal.


Area MACD merupakan histogram yang dihitung dari selisih nilai EMA (Exponential Moving Average) periode 12 dengan EMA periode 26. Garis sinyal MACD tampil sebagai grafik yang bergerak beriringan dengan area MACD. Komponen ini merupakan penjelmaan dari garis SMA (Simple Moving Average) yang dihitung dari MACD periode 9.

1. Indikator MACD Sebagai Penunjuk Arah Trend

Fungsi indikator MACD yang paling utama adalah untuk menunjukkan arah trend dan momentum pasar. Ketika trend harga sedang naik, area MACD berada di zona positif atau di atas level 0. Sementara ketika harga berada dalam downtrend, area MACD bergerak di zona negatif atau di bawah level 0.

Dari situ, Anda kemudian bisa menjadikan pergantian posisi area MACD sebagai sinyal perubahan arah trend. Jika ingin mengenali sinyal lebih awal, Anda dapat mengambil posisi sell ketika area MACD mulai menurun di area positif, atau open buy saat area MACD semakin menanjak di area negatif.

Untuk mengkonfirmasi, Anda bisa memperhatikan crossing garis sinyal dari area MACD. Dalam hal ini, tunggu hingga garis sinyal benar-benar memotong area MACD dari atas ke bawah sebelum entry sell, atau konfirmasikan crossing garis sinyal dari bawah ke atas untuk membuka posisi buy.


2. Indikator MACD Sebagai Pengukur Momentum

Tidak hanya arah trend, indikator MACD juga bisa menunjukkan momentum yang bisa menginformasikan kekuatan trend saat ini. Dengan mengetahui momentum, Anda bisa memperkirakan apakah trend masih akan menguat atau justru sedang melemah. Dalam trading forex, memahami cara membaca indikator MACD sebagai pengukur momentum dapat menghindarkan Anda dari kesalahan entry di penghujung trend.

Parameter momentum pada indikator MACD adalah ukuran batang-batang histogram yang membentuk area. Jadi, cara membaca indikator MACD sebagai pengukur momentum adalah dengan mengetahui tinggi rendah area yang terbentuk.


Contoh grafik di atas menunjukkan bahwa pergerakan harga yang kuat selalu diiringi dengan bentukan batang histogram yang panjang-panjang. Ketika trend baru terbentuk dan pasar masih mengumpulkan tenaga, area MACD tampil pendek-pendek namun semakin membesar. Puncak trend terjadi ketika kekuatan pasar terisi penuh dan ditandai oleh batang histogram MACD yang tampil paling panjang.

Sedangkan cara membaca indikator MACD untuk momentum yang mulai melemah adalah dengan mewaspadai histogram yang terus mengecil. Ketika pasar bersiap untuk beralih posisi, area MACD mulai melandai dan tampak semakin mengecil. Pada akhirnya, pola histogram akan mengulang siklus yang sama di area berlawanan.

3. Indikator MACD Sebagai Oscillator

Metode ini berkaitan erat dengan cara membaca indikator MACD sebagai pengukur momentum, sebab masih melibatkan pengamatan pada batang histogram di area MACD. Indikator MACD sebenarnya tidak mempunyai standard oversold dan overbought, dua hal yang menjadi syarat utama Oscillator. Namun demikian, banyak trader menggunakan puncak area MACD di zona positif sebagai batas overbought, dan dasar area MACD di zona negatif sebagai titik oversold.


4. Indikator MACD Sebagai Penunjuk Sinyal Convergen/Divergence

Dalam trading forex, divergence adalah perbedaan harga dengan indikator penunjuk momentum dan merupakan sinyal reversal. Cara membaca indikator MACD dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan strategi divergence pada umumnya. Ketika harga cenderung naik (membentuk higher high) tapi area MACD justru menurun (menciptakan formasi lower high), maka uptrend tak lama lagi akan berbalik menurun. Hal ini karena kenaikan harga tidak didukung oleh penguatan momentum.


Convergen adalah downtrend harga (ditandai oleh lower low) bisa berbalik ke atas apabila area MACD di zona negatif justru semakin meningkat (membentuk higher low). Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun seller masih berkuasa, momentum bullish terus menguat. Pada akhirnya, downtrend harga akan berubah menjadi uptrend ketika area MACD benar-benar menyebrang ke zona positif.

Kesimpulan

MACD adalah salah satu indikator forex terbaik yang bisa dimanfaatkan untuk menunjukkan berbagai sinyal. Indikator MACD bisa memberikan sinyal leading jika digunakan sebagai penanda convergen/divergence. Dengan demikian, Anda bisa mengantisipasi reversal seawal mungkin, bahkan sebelum pembalikan itu benar-benar terjadi.


Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy

Rabu, 09 Maret 2022

Indikator ADX Untuk Mengetahui Awal Suatu Trend Dan Kekuatannya

 


Average directional index (ADX) adalah indikator analisa teknikal yang dapat digunakan untuk menentukan kekuatan sebuah trend.

ADX dapat menunjukkan kapan trend dimulai, seberapa besar kekuatan trend, sampai waktu trend mulai melemah. Karena itu, indikator ADX dapat memberikan kemudahan bagi trader dalam menganalisa kecenderungan pasar.

Komponen Indikator ADX

Indikator ADX digunakan untuk menghitung kekuatan trend, terlepas apakah itu trend naik ataupun trend turun. Tampilan indikator ADX itu sendiri memiliki tiga komponen utama, antara lain:

Positive Directional Indicator (+DI)
Garis indikator yang mengukur kekuatan saat harga naik (uptrend) pada periode tertentu.

Negative Directional Indicator (-DI)
Garis indikator yang mengukur kekuatan saat harga turun (downtrend) pada periode tertentu.

Average Directional Indicator (ADX)
Gabungan dari garis (+DI) dan (-DI) yang sudah difilter dengan Moving Average.

ADX tidak menunjukkan arah trend, tapi untuk mengukur seberapa kuat arah trend tersebut. perhatikan contoh gambar di bawah ini:


Cara Mengukur Kekuatan Trend

Di dalam trading menggunakan ADX, terdapat parameter yang bisa disetting dalam angka 0 hingga 100, dimana parameter tersebutdigunakan untuk mengukur kekuatan arah trend. Untuk lebih mudah memfilter parameter tersebut, bisa menggunakan hitungan 0, 25, 50, 75, 100. Dimana dari parameter tersebut dapat dibagi menjadi empat katergori, antara lain:

    NILAI ADX       KATEGORI KEKUATAN TREND
         0 - 25                                 LEMAH
        25 - 50                                   KUAT
        50 - 75                            SANGAT KUAT
       75 - 100                  LEBIH DARI SANGAT KUAT

Mengetahui Saat Market Sideways

Pada saat indikator ADX berada di bawah level 25 atau berada di bawah garis +DI dan –DI, maka dapat dikatakan pasar dalam kondisi ranging atau sideways.

Harga bergerak dalam area antara level support atau resistance, sebelum menentukan arah trend selanjutnya.

Saat pasar dalam kondisi ranging, lebih baik tidak melakukan open posisi sampai ada tanda pasar kembali menunjukkan trend pergerakannya.

Sebagai contoh bisa perhatikan gambar berikut:


Mengidentifikasi Awal Sebuah Trend

Kegunaan lain dari indikator ADX adalah dapat mengidentifikasi potensi awal suatu trend baru dalam pasar. Caranya adalah dengan memantau pergerakan garis ADX yang bergerak di bawah level 25 yang hendak mengarah ke atas, sebagai sinyal pasar sedang menuju ke suatu trend baru.

Ketika pasar semakin lama dalam kondisi ranging, maka semakin besar potensi yang diberikan oleh pasar ke dalam potensi trend tersebut. Disinilah saat yang tepat untuk masuk pasar yaitu diawal sebuah trend. 

Untuk lebih jelasnya bisa lihat contoh gambar berikut:



Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy


Selasa, 22 Februari 2022

Mengenal Level Entry Exit Pivot Point Saat Market Sideway Dan Trending




Seperti kita ketahui bersama, support & resistance adalah level di mana harga akan memantul kembali ke arah sebelumnya. Secara tampilan, pivot point mirip dengan fibonacci, karena memiliki sejumlah level support & resistance. Bedanya, level pivot sifatnya lebih objektif.

Yang sering digunakan adalah Pivot Point Harian, yaitu Pivot Point yang dihitung berdasarkan harga penutupan hari sebelumnya.

Cara klasik yang sering digunakan dalam menghitung pivot point, adalah dengan memperhatikan rumus pivot point berikut:

Pivot points (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + harga penutupan) / 3
Resistance pertama (R1) = (2 x PP) – harga terendah
Support pertama (S1) = (2 x PP) – harga tertinggi
Resistance kedua (R2) = PP + (harga tertinggi – harga terendah)
Support kedua (S2) = PP – (harga tertinggi – harga terendah)
Resistance ketiga (R3) = harga tertinggi + 2 (PP – harga terendah)
Support ketiga (S3) = harga terendah – 2 (harga tertinggi – PP)


Namun sekarang sudah lebih mudah bagi pengguna Meta Trader 4 bisa langsung memasang Pivot Point Calculator di Meta Trader 4 dan aplikasi akan langsung menghitung level Pivot, Support dan Resistance begitu kita membuka chart pada Meta trader 4 kita.


Untuk setup Auto Pivot Point pada Meta Trader 4 silahkan tonton video tutorial ini

Strategi Trading Menggunakan Pivot Point

Strategi trading menggunakan level pivot kurang lebih sama seperti support & resistance. Saat harga berkali-kali bergerak ke arah sebuah level support atau resistance lalu memantul kembali, maka makin kuatlah level support atau resistance tersebut.

kondisi Pasar Sideway

Jika harga mendekati salah satu level resistance (R1, R2, R3), Anda bisa pasang posisi sell dan menempatkan stop loss sedikit di atas level resistance.

Jika harga mendekati salah satu level support (S1, S2, S3), Anda bisa pasang posisi buy dan tempatkan stop loss sedikit di bawah level support.

Pada cara trading konservatif (cara bouncing), Take Profit ditentukan beberapa pip di atas atau di bawah level pivot sebelumnya/sesudahnya.

Kondisi Pasar Trending

Seperti support & resistance standar, tidak selamanya harga terus bergerak naik dan turun di level-level support & resistance. Sering kita temukan harga terus naik atau pun turun setelah bersinggungan dengan salah satu level tersebut. Inilah yang dinamakan dengan breakout.

Salah satu keuntungan level pivot adalah indikator ini juga bisa digunakan untuk mencari tahu kapan kiranya sebuah trend terbentuk, sekalian mengikuti trend tersebut lebih awal dan mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi!

Bila Anda menggunakan cara breakout, maka penentuan level Take Profit adalah pada level Pivot sebelumnya dan Stop Loss bisa ditentukan pada level terendah bar sebelumnya.

Sebagai Penentu Sentimen Pasar

Sentimen pasar dalam hal ini adalah kecenderungan pergerakan harga untuk bullish atau bearish. Yang umum digunakan sebagai patokan adalah harga pembukaan (opening price) pada sesi perdagangan hari itu. Misalnya, jika pada sesi Asia, harga dibuka di atas Pivot Point, maka pada sesi tersebut sentimen pasar akan cenderung bullish, sebaliknya jika dibuka dibawah Pivot Point maka kecenderungan pasar adalah bearish. Namun konsisi ini akan berubah jika sudah memasuki pasar Eropa dan Amerika.

Untuk lebih jelas silahkan tonton video tutorialnya: https://youtu.be/zdXFXQOBABY


Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy

Jumat, 11 Februari 2022

Mengenal 2 Fungsi Fibonacci Retracement Dalam Trading



Ada beragam analisis teknikal dan indikator yang bisa digunakan oleh banyak trader, salah satunya adalah indikator forex populer yaitu Fibonacci retracement. Menariknya, indikator ini menggunakan teori deretan angka yang ditemukan lebih dari 700 tahun yang lalu.

Leonardo da Pisa atau yang lebih dikenal dengan nama Leonardo Fibonacci, merupakan seorang ahli matematika asal Italia. Ia menemukan rangkaian angka sederhana yang kemudian dijadikan rasio untuk menjelaskan berbagai kejadian alam. Rasio Fibonacci dimulai dari baris angka sederhana seperti: 0,1,1,2,3,5,8,13,21,34,55,89,144, dan seterusnya.

Untuk mendapatkan angka ini, caranya sangat mudah. Dimulai dari dua angka pertama, bila dijumlahkan akan mendapatkan angka yang ketiga, 0+1=1, 1+1=2, 1+2=3, dan seterusnya. Uniknya, jika Anda membagi salah satu angka dengan angka berikutnya, Anda akan mendapatkan angka desimal 0,618 (setelah dibulatkan), contohnya 34:55=0,618.

Dengan teori serupa yang sederhana, indikator forex Fibonacci menggunakan deretan angka-angka tertentu. Pada prakteknya, analisis teknikal menggunakan Fibonacci dilakukan dengan menarik garis untuk menghubungkan dua titik ekstrim pada grafik harga aset, yaitu titik tertinggi (high) dan titik terendah (low).

Setelah itu, trader membagi jarak vertikal antara kedua titik ekstrim itu berdasarkan rasio Fibonacci yaitu 23.6%, 38.2%, 50%, 61.8%, serta 100% dan menghasilkan berupa garis horizontal yang menandai level-level support dan resistance potensial dalam pergerakan harga sebelumnya dan berikutnya.

Sederhananya, indikator Fibonacci retracement adalah analisis teknikal yang membantu trader untuk menemukan level support dan resistance potensial dan digunakan untuk menentukan target entry, take profit (TP) dan stop loss (SL).

Cara menggunakan Fibonacci Retracement

Dengan menggunakan indikator fibonacci retracement ini, Anda bisa menentukan kisaran area yang berpotensi sebagai support dan resistance dengan cukup mudah.

Selain itu, Fibonacci Retracement bisa dimanfaatkan dengan baik saat pasar sedang dalam keadaan trending, baik di posisi uptrend maupun downtrend. Namun indikator ini juga bisa diterapkan pada pasar yang sedang dalam kondisi sideways.

Untuk bisa menemukan level-level fibonacci, Anda harus terlebih dahulu menemukan titik-titik tertinggi dan terendah yang signifikan. Titik-titik tersebut kita sebut sebagai swing high dan swing low.




Ada enam (6) level Fibonacci Retracement yang perlu Anda ketahui, yaitu:
  • Level 0.0%
  • Level 23.6%
  • Level 38.2%
  • Level 50%
  • Level 61.8%
  • Level 100%.

Beberapa level inilah yang dijadikan sebagai area acuan atau referensi oleh para trader dalam menentukan area support dan resistance. Diantara level tersebut, level fibonacci yang cukup populer adalah level 38.2%, 50%, dan 61.8% biasa disebut Golden Area.




Di kisaran salah satu dari ketiga level tersebut, seringkali memunculkan sinyal buy atau sell dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi.

Ada fakta menarik di balik Level 50%. Level ini sebenarnya bukan berasal dari rasio Fibonacci, namun banyak trader sering memperhatikan level ini.

Karena pergerakan harga pada level tersebut memiliki kecenderungan untuk melanjutkan ke suatu arah tertentu setelah melewatinya.

Jika harga tembus level 50% mengarah ke atas, maka reli harga kemungkinan akan sampai level 0.0%. Sebaliknya, jika harga berhasil menerobos level 50% ke arah bawah, maka kemerosotan harga kemungkinan akan berlanjut hingga level 100.0%.




Fungsi Fibonacci Retracement Dalam Trading

Fibonacci Retracement cocok digunakan saat pasar sedang mengalami trending ataupun sideway. Konsep dasar Fibonacci Retracement adalah mencari sinyal untuk “buy” di area support dan “sell” di area resistance. Konsep tersebut dapat dieksekusi dengan mencari swing high dan swing low dengan area Fibonacci Retracement yang digunakan adalah 38.2, 50 dan 61.8.

1. Ketika pasar trending.

Ketika pasar sedang mengalami uptrend, Anda bisa menarik garis Fibonacci Retracement  dari swing low ke swing high. Sementara itu, ketika pasar mengalami downtrend, garis Fibonacci Retracement ditarik dari swing high ke swing low.

2. Ketika pasar sideway.

Namun ketika pasar sedang sideways pun Anda tetap bisa menggunakan Fibonacci Retracement untuk mencarai peluang bounce atau pantulan harga di area 38.2, 50 dan 61.8  (golden area).

Dalam prakteknya, para trader kerap bingung untuk menentukan swing high atau swing low mana yang harus digunakan. Nah, ternyata hal ini lumrah, lho. Ini dikarenakan, setiap trader memiliki persepsi dan analisa tersendiri. 

Tidak ada swing high dan swing low yang salah,yang penting bisa digunakan sebagai tumpuan untuk menarik garis Fibonacci Retracement. Lalu, penerapan Fibonacci Retracement bisa dikatakan valid atau tidak apabila harga telah bergerak dan menghasilkan suatu kondisi.

Fibonacci Retracement memiliki beberapa kegunaan. Antara lain untuk menentukan sejauh mana target profit yang akan trader dapatkan dalam sebuah tren. Tidak hanya itu, analisa teknik ini juga berfungsi untuk menentukan level koreksi dari tren dan memprediksi ke arah mana harga akan bergerak.

Lebih jelasnya bisa tonton video tutorialnya: https://youtu.be/PZ403kggQN0


Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy

Rabu, 19 Januari 2022

2 Fungsi Sederhana Bollinger Band Agar Trading Jadi Mudah




Pita Bollinger memiliki SMA (Simple Moving Average) yang terdiri dari dua pita yang masing-masing berada pada garis bawah dan garis atas SMA. Pita yang berada di atas disebut dengan Upper Bollinger Band sementara pita yang posisinya di bawah dikenal dengan sebutan Lower Bollinger Bands.

Bollinger Bands Sebagai Penentu Arah Trend

Bollinger Bands adalah salah satu indikator teknikal untuk menentukan arah trend pergerakan harga. Selain arah trend, indikator ini juga digunakan untuk menentukan keadaan jenuh beli (overbought) dan jenuh jual (oversold). Ciri khasnya, dalam kondisi pasar sideways(ranging), harga bergerak diantara dua band (pita). Kini, indikator ini sangat populer digunakan dalam perdagangan di berbagai jenis pasar finansial, termasuk pasar forex.



Bollinger Bands Sebagai Pengukur Volatilitas

Ukuran volatilitas pasar tampak pada lebar band. Jika volatilitas sedang tinggi, maka jarak kedua band akan makin melebar. Biasanya terjadi ketika perubahan kondisi pasa sideways menjadi kondisi trending. Sebaliknya, volatilitas pasar yang rendah tampak pada jarak kedua band yang makin menyempit, dan biasanya terjadi ketika ada perubahan dari kondisi pasar trending menjadi sideways.



Trending artinya harga menunjukkan kecenderungan bergerak ke satu arah dengan, baik naik saja ataupun turun saja.

Sideways berarti harga cenderung bergerak naik-turun-naik-turun dalam kisaran tertentu saja (terbatas).

Trading Dengan Bollinger Band Saat Sideways

Ketika pasar cenderung berada pada pasar sideways, Anda dapat melakukan open position (entry) ketika harga sudah melewati garis SMA 20 dengan target pada level band terdekat. Ini dilakukan dengan aturan:

Apabila harga menembus level SMA-20 ke arah atas, maka entry (buy) dapat dilakukan saat candle ditutup di atas SMA-20 dengan target close position (exit) ketika harga mencapai upper band.

Sedangkan jika harga menembus level SMA-20 ke arah bawah, maka entry (sell) dapat dilakukan saat candle ditutup di bawah SMA-20 dengan target close position (exit) ketika harga mencapai lower band.



Trading Dengan Bollinger Band Saat Trend

Lazimnya, orang-orang menggunakan Bollinger Band ketika keadaan pasar sideways. Tetapi, sebenarnya bisa juga dilakukan ketika keadaan pasar berada pada pasar trending dengan aturan:

Kondisi uptrend terjadi apabila harga telah melewati upper band dan harga penutupan berada di luar band dengan target close position (exit) ketika harga mencapai middle band.

Kondisi downtrend terjadi apabila harga telah melewati lower band dan harga penutupan berada di luar band dengan target close position (exit) ketika harga mencapai middle band.



Pada dasarnya bila Anda bisa memaksimalkan cara menggunakan Bollinger Band strategy ini, Anda juga bisa memaksimalkan keuntungan yang Anda dapatkan. Akan tetapi, sama seperti strategi lainnya, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk mengaplikasikan Bollinger Band strategy dalam trading Anda.

Tonton video tutorialnya juga: https://youtu.be/oTbGdG13cPA


Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy

Selasa, 11 Januari 2022

Strategi Sederhana Trading Emas Harian (Scalping XAUUSD)

 


Sebagian besar trader sukses pasti mempunyai dan menggunakan sebuah strategi yang tepat. Sebelum trading di pasar forex, pastikan Anda memiliki sebuah strategi untuk memaksimalkan profit dan mengurangi potensi loss.


Berikut ini adalah strategi trading sederhana yang dapat Anda pakai saat trading emas harian. Perlu diketahui bahwa strategi trading emas berikut dapat dimanfaatkan oleh trader pemula maupun trader profesional.

Strategi trading emas ini menggunakan beberapa indikator tertentu sebagai dasar kuat terkait kapan trader harus masuk dan keluar pasar. Strategi trading sederhana melibatkan tiga indikator teknikal.

EMA (Exponential Moving Average)

indikator ini penting dalam memperbaiki indikator SMA (Simple Moving Average) yang pergerakannya cenderung lebih lambat. Indikator EMA dinilai bisa bekerja lebih baik dan sering digunakan oleh para trader harian karena dapat bereaksi lebih cepat daripada SMA.

Stochastic Oscillator

Indikator Stochastic ini dapat menggambarkan pergerakan harga ketika harga sudah menyentuh keadaan overbought atau oversold.

Relative Strength Index (RSI)

Indikator RSI ini merupakan salah satu indikator oscillator yang mengukur perbandingan rata-rata kenaikan dan penurunan harga dan dapat menunjukkan level overbought (jenuh beli) dan oversold (jenuh jual). Selain itu, indikator ini juga mampu melakukan deteksi terkait dengan probabilitas terjadinya perubahan atau pergantian arah trend.

Indikator Teknikal:

- EMA 5, EMA 10


- Stochastic Oscillator



- RSI

 

Strategi buy XAUUSD

Ketika garis EMA 5 memotong dari bawah garis EMA 10 dan garis stochastic naik tetapi masih di bawah 80.00. Sementara itu RSI berada di atas 50 dan tidak dalam kondisi overbought.

Strategi sell XAUUSD

Ketika garis EMA 5 memotong dari atas garis EMA 10 dan garis Stochastic menurun namun masih di atas 20.00 Selain itu RSI tidak dalam kondisi sedang oversold.



Strategi EXIT Buy/Sell

Ketika terjadi closing candle dibawah garis EMA 10 untuk Open Buy atau terjadi closing candle diatas garis EMA 10 untul Open Sell


Tonton video tutorialnya disni: Trading Scalping XAUUSD/GOLD Dengan 3 Indikator



Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy