Disclaimer

Materi yang disajikan adalah sebagai bahan edukasi, kami tidak menjamin 100% akurasi. Trading forex & commodity salah satu instrumen investasi yang berisiko tinggi, tanggung jawab atas hasil dari segala keputusan ada pada Anda sendiri.

Outlook Harian



Outlook, 21 April 2022

DAILY FOREX UPDATE

Dolar AS beranjak naik pada Kamis (21/04) pagi di Asia di tengah ekspektasi bahwa Federal Reserve AS akan memperketat kebijakan moneternya lebih agresif. Namun, greenback jauh dari level tertinggi hari sebelumnya saat investor menunggu pertemuan para menteri keuangan membahas soal apresiasi mata uang yang cepat.

Indeks Dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya naik tipis 0,15% menjadi 100,565 pada pukul 10.24 WIB.

Pasangan USD/JPY naik 0,48% di 128,50. Rupiah naik tipis 0,03% di 14.350,0 per dolar AS hingga pukul 10.54 WIB.

Pasangan AUD/USD turun 0,26% menjadi 0,7430 dan NZD/USD turun 0,36% ke 0,6780. Indeks harga konsumen (IHK)}} Selandia Baru tumbuh sebesar 6,9% tahun ke tahun dan 1,8% kuartal ke kuartal pada kuartal I tahun 2022, laju tercepat dalam 32 tahun.

Pasangan USD/CNY naik 0,21% di 6,4327 dan GBP/USD turun tipis 0,15% menjadi 1,3047.

Dolar AS mencapai level tertinggi dua dekade di 129,430 terhadap yen pada hari Rabu, setelah Bank of Japan (BOJ) masuk ke pasar obligasi untuk ketiga kalinya dalam tiga bulan untuk mempertahankan target imbal hasil nol persen. Bank sentral menawarkan untuk membeli obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun dalam jumlah tidak terbatas selama empat sesi berturut-turut pada hari Rabu sebelum menyerahkan keputusan kebijakan pada minggu depan.

Sementara itu, dalam komentar terbaru yang mendukung kenaikan suku bunga yang lebih besar, Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan pada hari Rabu bahwa ia yakin kasus kenaikan suku bunga 50 bps pada Mei 2022 adalah "selesai" dan "solid". Investor sekarang memperkirakan kenaikan 50 bps di bulan Mei dan Juni.

"Beberapa bank sentral akan menandingi The Fed tahun ini terkait kebijakan kenaikan suku bunga dan penghematan neraca, membuat perbedaan kebijakan dramatis yang menguntungkan dolar," sebut Ahli Strategi Westpac dalam catatan.

Indeks dolar "harusnya tetap dalam penawaran beli di lingkungan ini, dengan potensi 101-102 kemungkinan akan meningkat dalam waktu dekat," tambah catatan itu.

Meskipun Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda bersikukuh bahwa yen yang lemah secara keseluruhan baik untuk perekonomian, ia mengakui bahwa pergerakannya "cukup tajam" dan dapat merusak rencana bisnis perusahaan Jepang di awal minggu ini. Menteri Keuangan Shunichi Suzuki juga akan bertemu dengan Menteri Keuangan AS Janet Yellen akhir pekan ini di sela-sela pertemuan para pemimpin keuangan G20 di Washington D.C.

Pengambil kebijakan Jepang "belum sepenuhnya menggunakan perangkat intervensi verbal mereka - fase berikutnya biasanya melibatkan menggambarkan langkah ini sebagai 'spekulatif' dan mengancam untuk 'mengambil tindakan tegas. Jika kita sampai pada titik itu, rintangan untuk langkah logis berikutnya dari intervensi fisik kemungkinan lebih rendah dari yang diperkirakan secara umum," kata Kepala Strategi Mata Uang RBC Capital Markets Adam Cole dalam catatan riset.

Tetapi apakah intervensi akan berhasil, itu "dapat memulihkan keseimbangan jangka pendek ke pasar dan mengelola laju depresiasi yen tetapi dalam jangka panjang, tidak ada prospek BOJ menghapus semua penjualan yen yang kami antisipasi dari dalam Jepang karena siklus kenaikan Fed berjalan dengan baik,” tambah catatan itu.

EMAS - XAUUSD

Harga emas turun pada Kamis (21/04) petang di Asia. Rebound imbal hasil treasury menekan permintaan safe haven dari perang yang berlangsung di Ukraina dan dampak potensial pada ekonomi global.

Harga emas berjangka turun 0,06% di $1.954,60/oz pukul 12.50 WIB. Dolar AS, yang biasanya bergerak terbalik ke emas, beranjak turun tipis 0,06% di 1.954,60 pada hari Kamis.

Imbal hasil acuan Treasury AS tenor 10 tahun kembali naik setelah jatuh dari level tertinggi tiga tahun pada hari Rabu. Imbal hasil obligasi AS telah menguat atas harapan bahwa Federal Reserve AS akan secara agresif menaikkan suku bunga.

Investor sekarang menunggu pernyataan dari Ketua Fed Jerome Powell dan Presiden European Central Bank Christine Lagarde, yang akan berbicara dalam acara Dana Moneter Internasional (IMF). Gubernur Bank of England Andrew Bailey akan berbicara sehari kemudian.

"Karena level kritis $2.000 tidak rusak, orang-orang kemungkinan memutuskan untuk mengambil keuntungan ... dan memindahkan dana ke ekuitas atau bahkan Treasury Bill jangka pendek," kata Manager Director Goldsilver Brian Lan kepada Reuters.

Emas akan terlihat berkonsolidasi dalam waktu dekat dan saat ini melakukannya sekitar $1,940 - $1.960/oz, LAN menambahkan.

Logam kuning mendekati level $2.000 pada awal minggu ini, akibat kekhawatiran seputar perang di Ukraina yang dipicu oleh invasi Rusia pada 24 Februari dan meningkatnya tekanan inflasi yang memberikan dorongan aset safe haven.

"Risiko geopolitik dan tekanan inflasi saat ini merupakan dua pendorong utama untuk pasar emas. Kenaikan tingkat suku bunga Fed yang agresif sebesar 75 bps bisa menjadi peredam harga jangka pendek, sementara naikknya inflasi karena guncangan pasokan dapat mengurangi dampak negatif," Analis ANZ Research Analis mengatakan dalam catatan.

Dalam logam mulia lainnya, Perak turun 0,4% dan palladium turun 0,2%, sedangkan platinum juga turun.

MINYAK - WTI

Harga minyak naik pada Kamis (21/04) setelah kondisi pasokan dari Libya mengejutkan pasar di awal pekan.

Harga minyak Brent melonjak 1,30% di $108,19 per barel pukul 13.25 WIB dan harga minyak WTI naik 1,25% di $103,47 per barel menurut data Investing.com.

Pasar cenderung menjadi volatil lagi, dengan Uni Eropa masih menimbang larangan minyak Rusia pasca invasi ke Ukraina pada 24 Februari lalu, menurut analis.

"Minyak, dan pasar energi umumnya, memiliki banyak masalah besar yang mendera untuk tetap tenang dalam waktu yang lama," Analis Commonwealth Bank Commodities Tobin Gorey mengatakan kepada Reuters.

Libya, anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), mengatakan pada hari Rabu negara itu kehilangan lebih dari 550.000 barel per hari produksi minyak akibat blokade unjuk rasa di fasilitas utama dan terminal ekspor.

Investor juga terus memantau permintaan bahan bakar di China, saat negara ini perlahan mengurangi pembatasan Covid-19 yang ketat. Namun, pasar minyak tetap tetap kala OPEC dan sekutunya, atau OPEC+, terus berjuang untuk memenuhi target produksi.

"Tidak ada banyak berita tambahan dalam semalam, dengan lintasan dari sini benar-benar bergantung pada apakah negara lain bergabung dengan Inggris / AS dalam melarang impor minyak Rusia," Direktur Pelaksana Manajemen Aset SPI Stephen Innes Stephen Innes menyatakan dalam catatan.

Negara-negara Uni Eropa saat ini sedang mengevaluasi metode untuk mengimbangi larangan potensial pada minyak Rusia, tetapi tidak ada keputusan yang telah dilakukan atas paket sanksi keenam selama delapan minggu setelah perang di Ukraina dimulai.

Sementara itu, data pasokan minyak mentah dari Badan Informasi Energi AS menunjukkan penurunan 8,020 juta barel untuk minggu terakhir 15 April dilaporkan selama minggu sebelumnya.

Data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute, dirilis sehari sebelumnya, menunjukkan hasil pengurangan pasokan sebanyak 4,496 juta barel.


Sumber : https://id.investing.com


Semoga bermanfaat
#tredingmudah | make trading so easy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar